Sabtu, 31 Mei 2014

KEPINGAN LUKA




Kulihat Faruq masih tertunduk di depan gundukan tanah. Entah milik siapa kubur itu, aku terpaksa berbohong untuk menenangkan hatinya. Setelah lama berdiam, tiba-tiba Faruq berpaling padaku, tatapan matanya tajam.
You know I’m not like them[1],” kubalas tatapan itu lembut.
Faruq perlahan berdiri, lalu berbalik, meninggalkanku begitu saja.
Hey, don’t leave me[2]!” kukejar dia.
Khaliba lak[3].”
Why you say that[4]?”
Go!” Faruq mendorongku keras.
Aku tak coba menyusulnya lagi, tak pula sakit hati. Sangat wajar Faruq begitu, ia baru saja kehilangan adik perempuannya. Satu-satunya keluarga yang tersisa sejak kedatangaan pasukan dari negaraku.
Dua hari lalu milisi Mahdi menyerang Waziriyah, adik Faruq yang tinggal seorang diri terkepung di dalam rumahnya. Sebelumnya, aku sudah mengingatkan gadis itu untuk keluar bersamaku, tapi ia gadis yang patuh. Hafsah, adik Faruq itu dipesan saudaranya untuk tidak ke mana-mana, apalagi dengan laki-laki yang bukan mahram. Ditambah lagi, aku adalah orang asing, bangsa penjajah yang menghancurkan negeri mereka.

Saat kejadian itu, Faruq sedang berada di Baghdad mengurusi usaha dagangnya. Dia pemuda yang tegar, tetap bekerja di tengah medan gila ini, dan selalu optimis menghadapi hari esok. Tapi itu dulu, sebelum milisi dukungan pemerintah Irak itu melepaskan tembakan membabi-buta ke rumah-rumah warga Sunni di Waziriyah.
Aku dan Faruq tahu, Syiah dan Sunni diadu-domba oleh orang-orang dari bangsaku. Aku malu karena tak mampu berbuat banyak. Hingga saat ini, yang kubisa hanya sebatas memberi bantuan materi pada beberapa penduduk miskin yang kutemui. Tak peduli apakah mereka Sunni, Kurdi, atau Syiah.
Aku beranjak meninggalkan kuburan massal yang tak kutahu berisi jasad siapa saja. Yang jelas, Hafsah tidak di sana.
***
 Syukran[5].” Anak kecil itu mengangguk dalam, padahal aku ingin melihat ia tersenyum menerima roti dariku. Tapi apa bisa ia tersenyum di antara reruntuhan dan desing peluru?
Dua jam kemudian, bukan seorang ibu atau kakak yang mendatangiku untuk berterima kasih––jika perlu untuk meminta roti lagi, tapi sekelompok orang tiba-tiba muncul dengan wajah penuh emosi. Sebuah batu menghantam kepalaku, disusul pukulan dengan tangan kosong dan benda keras. Selanjutnya, aku tak tahu apa yang  terjadi. Sekitarku gelap, hanya terdengar samar orang-orang itu memaki menggunakan bahasa Arab yang telah kupelajari sebelum kemari.
Entah berapa lama aku pingsan, hingga kemudian aku tersadar demi mendengar suara orang-orang bertengkar di sekitarku.
Man huwa[6], kenapa kau membelanya?”
“Dia orang baik.”
“Mana ada kafir yang baik.”
Wallahi[7], beberapa kali aku melihatnya memberi bantuan pada orang-orang yang ia temui.”
“Bagaimana kabar orang-orang yang ia bantu itu sekarang, sudah mati kan?”
“Tidak, kecuali yang tertembak atau tertimpa reruntuhan.”
“Lalu siapa yang menembak dan meruntuhkan gedung-gedung itu?”
“Amerika,” aku menjawab. Sontak mereka semua menolehku.
What’s your name[8]?” seseorang mendekat.
I’m Fred.”
“Faruq.” Pemuda itu mengulurkan tangannya, kurasa dialah yang tadi membelaku.
Dua teman Faruq bergegas meninggalkan kami, tampaknya mereka kecewa terhadap perlakuan Faruq padaku.
Luka yang cukup parah memaksaku tinggal selama beberapa hari bersama Faruq dan Hafsah. Mereka tak bisa membawaku ke rumah sakit karena masih banyak warga yang bersikeras ingin membunuhku. Sulit dipercaya, kakak beradik itu tampak ikhlas merawat dan menjaga satu tentara musuh yang tercecer ini. Setelah cukup pulih, secara sembunyi-sembunyi aku kembali ke markas. Untunglah aku segera muncul, karena menurut kabar yang kudapat, rekan-rekan sesama tentara baru saja hendak menyerang pemukiman warga dengan dalih membebaskan aku dari penyanderaan. Anehnya, aku juga mendapatkan kabar bahwa ada seorang teman dari kesatuan yang coba membunuhku dengan roti beracun. Dan tanpa kusadari, aku telah membunuh seorang anak Irak dengan racun pada roti itu.
***
“Fred!”
Yes, Sir[9],” Aku bergegas menghadap orang yang berteriak itu.
“Aku mendapat banyak laporan buruk tentangmu selama di sini.”
Aku diam, meski tak tertunduk.
“Apa maksudmu memberi makanan dan pakaian pada penduduk?”
Aku hendak menjawab, tapi Jenderal Jason, komandanku itu tak memberi kesempatan.
“Sekarang kutanyakan padamu, adakah satu saja seorang Irak yang tewas di tanganmu?”
“Ada, tapi itu di luar pengetahuanku, bahkan tidak terniat sama sekali. Aku kemari tidak untuk membunuh, aku bagian dari pasukan yang didatangkan belakangan dengan misi menciptakan kedamaian, membangun Irak yang demokratis seperti cita-cita Washington.”
Cuih!!
Ludah Jenderal Jason memuncrat di wajahku. “Jangan mimpi, seluruh dunia tahu itu mustahil!”
“Lalu untuk apa kita di sini?”
Jenderal Jason menatapku tajam, matanya lebih mengerikan dari mata Faruq kemarin. Ia kemudian menarik kerahku hingga wajah kami berhadapan dengan jarak sangat dekat.
“Aku benci ucapan-ucapanmu, tidak adakah hal lain yang lebih baik untuk kudengar?!” bentaknya.
“Bagaimana jika kukatakan bahwa sekarang aku adalah seorang Muslim?”
“S**t!”
“Syaikh Mohammed Karim yang mengislamkanku, saudaraku Faruq yang…”
Shut up[10]! Sekarang juga kuurus keberangkatanmu, kau harus kembali ke Amerika.”
Aku menelan ludah, seketika kepalaku menangkap bayangan Faruq. Aku harus menemuinya.
***
Sudah lebih setengah hari aku mengelilingi Baghdad. Mahmudiyah, Lathifiyah, Daurah, Abu Gharib, dan Amiliyah telah kutelusuri. Wilayah-wilayah tersebut dihuni mayoritas Sunni sehingga aku yakin Faruq berada di sana. Langit Waziriyah masih kelabu, catatan lukanya terus bertambah, memaksa para penghuni untuk berhijrah memulai kehidupan baru di tempat lain. Tapi di tempat lainnya, ternyata cerita yang sama sedang berulang.
 Ironis, Sunni dan Syiah yang tadinya hidup berdampingan kini saling bunuh. Sahabatku yang muda dan kuat itu takkan selamat jika ia berada di tempat-tempat umum sendirian. Seperti Aisyah, Utsman, Bakr, nama Faruq juga sangat khas ke-sunni-annya.
O, Allah, our God, pertemukan aku dengan saudaraku Faruq. Bukankah Kau mencintai kami?” bisikku lirih. Aku tahu Dia dekat.
“Faruq, where are you[11]?” tiba-tiba aku berteriak, orang-orang di sekitar tersenyum-senyum melihatku. Mereka mengira aku sedang depresi, sama seperti beberapa tentara USA lainnya.
Aku terduduk kelelahan, pasar Syaurajah melemparkan kebisingannya ke telingaku. Andai di antara kebisingan itu ada teriakan Faruq, tentu lelah ini akan lenyap seketika untuk menyambut pelukan rindu seorang sahabat.
Tiba-tiba seseorang melintas di hadapanku. Ia memalingkan muka, tapi aku kenal postur dan cara berjalannya. Dia Faruq!
“Assalamu’alaikum.” Kusejajarkan langkahku dengannya.
Faruq tak menjawab.
“Faruq, I know it’s you[12].”
Ia mempercepat jalannya.
Come on, Brother[13]. Sebentar lagi aku akan ditarik kembali ke Amerika. Aku ingin kau ikut bagaimana pun caranya, Faruq… Faruq!”
Faruq berlari meninggalkanku, cepat sekali. Aku berusaha mengejarnya, tapi, BOOM!!!
Syaurajah bergoncang. Mobil-mobil terbakar, darah berceceran, airmataku tumpah.
“Kau bodoh, Faruq. Kenapa di sini? Seharusnya kauledakkan dirimu di markasku. Bunuh Jason, Christian, Billy, Hans, Tom… bukan saudaramu!” makiku.
Aku berbalik, mustahil aku sanggup menyaksikan tubuh Faruq yang berkeping-keping di sana.
***
Helikopter yang membawaku mulai mengawang, kusaksikan seringai Jenderal Jason di bawah. Pahlawan sinting itu khawatir aku mempengaruhi anak buahnya, hingga ia menyingkirkanku dengan cara seperti ini. Laporan-laporan fiktifnya akan memuluskan proses pemecatanku. Tiba di Washington nanti, aku harus melepaskan seluruh atribut ketentaraan yang kupunya. Mereka tidak tahu, jika saja Allah tidak melarang, aku ingin terjun dari helikopter ini untuk menyelesaikan hidup, karena aku malu lahir sebagai bangsa penjajah.



[1] Kau tahu aku tidak seperti mereka
[2] hei, jangan tinggalkan aku
[3] jaga dirimu baik-baik
[4] mengapa kau bicara begitu
[5] terima kasih
[6] siapa dia
[7] demi Allah
[8] siapa namamu
[9] ya/siap, Pak
[10] diam
[11] di mana kau
[12] aku tahu ini kau
[13] ayolah, Saudaraku

Tidak ada komentar:

Posting Komentar