Minggu, 05 Januari 2014

Sertifikat



oleh Via Rinzeani (mahasiswa Unja)

Cahaya mentari kembali menyapa bumi sesuai rotasinya. Namun kali ini ada yang berbeda, mentari terlihat begitu murung tak seceria biasanya sebab semalam langit menangis sejadi-jadinya menyingkirkan gemerlap bulan dan pelita-pelita angkasa di tengah jadwal rutin mereka. Imbasnya, saat mentari telah cukup jauh meninggalkan ufuk, sisa-sisa embun masih belum hilang sepenuhnya dari dedaunan pohon sementara itu genangan air masih tertinggal di lekukan-lekukan jalan dan parit. Kesegaran udara masih sangat jelas terasa.

Dua orang gadis melintasi jalan trotoar. Di sebelahnya berderet bermacam-macam pohon. Di batang pohon itu, terpampang sebuah benda tipis persegi panjang tertancap paku, berbahan dasar seng yang dicat putih. Seng itu terletak lebih kurang 1-2 meter di atas permukaan tanah, tegantung tinggi pohonnya. Di atas seng itu tertulis nama pohon , habitat asli pohon serta nomenclature binomial-nya dengan cat berwarna hitam.


“Kamu kuliah apa pagi ini Dy, Metematika ya?” Tanya gita pada Maudy memecah suasana hening di antara mereka sembari melihat buku matematika yang sedang ditekuni Maudy. Semenjak memulai perjalan dari kos mereka, Maudy hanya terdiam dan serius berkutat pada buku-bukunya

“ Iya nih, aku UTS hari ini, dosennya killer?” jawab Maudy ringkas.

“Oh ya, ikut gak acara UKM siang ini?”

“Oh… acara dari Unit Kegiatan Mahasiswa itu ya, gak ada sertifikatnya sih, aku gak ikut,” jawab Maudy.

“Oh… iya deh kalo gitu,” jawab Gita, matanya menyorotkan kekecewaan. “Oke deh, udah dulu ya, good luck buat UTS nya,”  kata Gita saat sampai dipersimpangan jalan.

“Ok Gita, see you,” jawab Maudy menutup sementara kebersamaan.

Karena berbeda jurusan, Mereka berpisah di persimpangan Fakultas Pertanian, tempat kuliah Maudy, sementara Gita masih harus melanjutkan beberapa meter perjalanan untuk menuju ke Fakultas Ekonominya. 
Maudy pun menuju gedung kuliahnya, di perjalanan ia bertemu teman sekelasnya.

“ Hai Maudy, cantik banget hari ini,” Sapa Dian ramah “Mau ikut seminar gak?” Tanya Dian selanjutnya.

“Seminar apa?”

“Seminar motivasi gitu, yang kayak biasanya itu lho, biaya pendaftarannya murah kok, acaranya besok di Dinas Pendidikan Provinsi, pemateri nasional, gimana?” Tanya Dian. “Fasilitasnya ada snack plus sertifikatnya juga.”

“Wah.. boleh juga tu kalo ada sertifikat, daftarin aku ya,” jawab Maudy kemudian.

“Ok sip,” jawab Dian.

Mereka melanjutkan perjalan ke kelas mereka.
__
Semburat jingga mewarnai permadani langit, mentari telah bersiap-siap berganti peran dengan sang rembulan. Maudy baru tiba di kosnya, ia rutin pulang menjelang magrib sebab ia termasuk mahasiswi yang aktif organisasi dan memiliki banyak kegiatan. Kos Maudy tidaklah jauh dari kampusnya, hanya butuh berjalan kaki beberapa meter untuk sampai ke ujung areal kampus. Rumah kosnya termasuk dalam areal perumahan yang padat dan sempit, tak ada ruang antara satu rumah kerumah tetangga, jarak pintu utama ke pintu pagar pun tak lebih dari dua meter. Di kos yang seluruh kamarnya telah penuh terhuni ini, Maudy memiliki kamar sendiri. Sampai saat ini Maudy telah menginjak semester 3, teman terdekatnya adalah Gita, ia sering berbagi cerita dengan Gita,.

“Taraaaaa…..,” ucap Maudy yang mampir di depan pintu kamar Gita sebelum menuju ke kamarnya yang 
terletak sedikit jauh di belakang rumah. Gita yang saat itu sedang menggosok pakaiannya kaget atas kehadiran mendadak Maudy.

“Ya Ampun Maudy, kebiasaan ngagetin aku” ucap Gita kesal.

“Liat donk ni,” kata Maudy sambil memperlihatkan sebuah kertas yang didominasi warna merah berbentuk persegi panjang ke hadapan Gita.

“Apa… ? Yah sertifikat lagi, kirain kamu mau ngasih aku cemilan gitu,” ucap Gita kurang tertarik, ia lebih tertarik dengan baju-bajunya yang kusut belum disetrika daripada sertifikat Maudy yang mulus.

“Hahaha..Ia donk, tadi kan aku ikut acara di Dinas Provinsi, dapat sertifikat deh, bagus kan?”

“Yah biasa aja, itukan cuma kertas Maudy, yang penting itu ilmunya.”

“Ya emang sih tapi kan biar gimanapun, sertifikat itu penting, kalo kita mau lulus kuliah kan juga ada syarat jumlah sertifikatnya, gimana sih..”

“Iya tapi kan itu bukan syarat mutlaknya juga, masih banyak kok syarat yang lain, lagian masih banyak waktu kok untuk sertifikat itu.”

“ Ya biarin aja lah.. emm.. sertifikat aku udah berapa yaa… udah banyak banget,” jawab Maudy dengan hati yang sangat gembira.

“Kalo aku gak maniak sama sertifikat, tadi aja aku ikut yang acara UKM, gak ada sertifikatnya tuh biasa aja, tapi materinya bagus banget lho Dy”

“Oh yang kamu tawarin tadi pagi itu, tadi aku juga ditawarin Erina, tapi aku gak mau kalo gak ada sertfikatnya.”

“Ya iyalah kamu kan selalu gitu, kalo ada sertifikat aja baru mau ikut acara.”

“Iya donk, besok aku ada seminar lagi di Dinas Pendidikan Provinsi, aku dikasih tahu Dian. Pematerinya nasional lho, pasti sertifikatnya bagus.. ya udah deh it’s time for take a bath, bye Gita” tutup Maudy kemudian dan berlalu pergi ke kamarnya.
__

Hari ini hari Jum’at, kampus berjalan seperti biasa, namun Maudy mendapatkan libur, sehingga hari ini dimanfaatkannya untuk mengikuti acara yang menghasilkan sertifikat. Begitulah Maudy, ia sangat suka mengoleksi sertifikat, ada kebanggaan tersendiri saat ia mengumpulkan sertifikat dari berbagai macam acara dan kegiatan.

Sebuah seminar motivasi di selenggarakan di Dinas Pendidikan Provinsi, sebuah gedung 3 lantai yang sangat megah dan terletak di ibu kota provinsi. Seminar dilaksanakan di aula yang terdapat di lantai paling atas. Maudy dan Dian sampai tepat pada jam yang ditentukan, mereka segera ke meja administrasi.

“Silakan diisi absennya Mbak!” ucap salah satu dari 2 orang wanita di meja administrasi yang terletak beberapa meter dari pintu masuk ke ruangan seminar. Wanita itu berpostur tinggi dan berjilbab serta sangat sopan melayani registrasi peserta, tulisan Aisyah terlihat jelas di kukarde yang tergantung di lehernya. Maudy mengisi form lalu menuliskan namanya di daftar absen, akan tetapi, Maudy juga menuliskan nama lain di daftar itu.

“Maaf Mbak, ini yang namanya Alenta Afriana orangnya yang mana ya?” ucap wanita yang lain disebelah wanita berjilbab itu kepada para peserta yang baru selesai mengisi absen. Wanita itu juga cukup tinggi, rambutnya panjang hingga ke pinggang, terurai lurus  dan rapi, sepertinya ia menemukan kejanggalan. Namun di antara mereka tidak ada yang menjawab pertanyaan itu. Maudy tahu bahwa ia yang harus menjelaskan hasil tulisannya.

“Oh itu teman saya Mbak, dia gak bisa datang, tapi dia udah daftar dan udah bayar kok Mbak.”. Maudy menghampiri kembali meja administrasi yang baru beberapa langkah ia tinggalkan.

“Kalau begitu tidak bisa Mbak, kalau tidak datang ya tidak ditulis, nanti uangnya kami kembalikan,” ujar wanita itu menjelaskan. Maudy menyerah, ia merelakan tulisan Alenta Afriana dicoret dari daftar. Ia melanjutkan masuk ke ruangan.

“Kamu berani amat nulis nama Alenta Dy, padahal kan dia gak datang?” tanya Dian penasaran.

“Iya, aku kan cuma mau ambilin sertifikatnya buat Alenta, soalnya dia nitip, eh ternyata gak bisa, ketat banget mereka tu,”

“Hmm iyalah ini kan acara yang cukup besar,” jawab Dian.. “Duduk di mana ya?” Tanya Dian kemudian. Matanya memperhatikan keseluruh ruangan yang luas dan megah itu, kursi-kursi empuk tertata rapi, AC yang terletak di setiap sudut  ruangan membuat ruangan ini begitu nyaman.

“Udahlah di belakang aja, aku  malas di depan,” jawab Maudy sambil melihat banyak kursi kosong di belakang ruangan. Dian mengikuti Maudy.
Selama acara, Maudy tidak begitu memperhatikan pembicara, ia bahkan menyempatkan diri membaca buku matematika untuk mempelajari UTS yang sempat tertunda.

“Hei, kamu gak perhatikan materinya ya?” tegur Dian pada Maudy, tangannya mengambil buku di tangan Maudy tanpa izin.

“Alah gak papa, memperhatikan atau tidak toh dapat sertifikat juga kan?” Jawab Maudy, tangannya  segera mengambil kembali buku yang dirampas Dian.

“Emang parah kamu Dy, yang penting itu ilmunya bukan sertifikatnya.” Dian menggelengkan kepalanya, tidak paham dengan sifat Maudy.

“Duh kamu ni jadi mirip Gita suka nasihatin gitu. Ya udah kamu aja yang perhatikan, ntar transfer ilmunya sama aku. Oke ?” jawab Maudy asal.
Seminar telah selesai. Panitia membagikan sertifikat, namun sialnya Maudy, ia tidak mendapat sertifikat karena telah habis.

“Mas, panitianya gimana sih, masa saya gak dapat sertifikat? Kan saya daftar udah dari jauh-jauh hari,” protes Maudy pada seorang laki-laki kurus tinggi yang baru saja membagikan sertifikat.

“Maaf ya Mbak, jumlah pesertanya melebihi jumlah sertifikat yang tersedia, jadi Mbak bisa ambil di sini lusa,” jelas laki-laki itu.

“Yah, gak asik banget sih,” jawab Maudy kesal.

“Udahlah lusa kita ke sini lagi barengan, aku kan juga gak dapat,” jawab Dian menghibur.
Maudy pun terpaksa ikhlas pulang tanpa membawa sertifikat yang telah diharap-harapkannya.
__
Pagi itu di kos, Gita  menyempatkan diri mengunjungi kamar Maudy untuk berpamitan sebelum pulang ke kampungnya.

“Maudy, Ya ampun Maudy gak ada kerjaan yang lebih bagus ya,?” Gita mengomentari Maudy yang sedang asik  menghitung jumlah sertifikatnya, tebal tumpukan sertifikat itu kira-kira 10 cm. “Aku pergi ya.” Ucap Gita kemudian.

“Oh iya Git, dijemput ya? Aku juga bentar lagi dijemput sama Dian ke acara seminar, habis itu langsung kerja kelompok di rumahnya,“ jawab Maudy sembari terus menghitung perlembar sertifikat itu. “Be carefull ya Git” Ucap Maudy kemudian. Gita lalu meninggalkan Maudy yang melanjutkan penghitungan. Tak lama berselang, suara klakson motor mengagetkan  Maudy.

“Tring..Tring…,” Suara klakson itu terdengar dua kali.

“Maudy, ada Dian,” teriak salah seorang penghuni rumah kos.

“Iya Dian tunggu sebentar,” Teriak Maudy dari dalam kamarnya, penghitungan sertifikat yang hampir selesai itu pun terhenti seketika, Maudy tak memperkirakan Dian yang datang lebih cepat, ia pun pergi tergesa-gesa.

Sore itu, setelah mengikuti seminar, Maudy ke rumah Dian untuk mengerjakan tugas kelompok yang diberikan dosen mereka. Rumah Dian sangatlah luas dan asri, di depan  dan belakang rumahnya banyak tanaman pohon, rumpun-rumput hijau Gajah Mini tertata rapi menutupi permukaan tanah halaman depan, di depan terasnya berderet vas-vas bunga yang sangat rapi dengan berbagai warna. Maudy dan Dian  mengerjakan tugas dengan 3 orang teman kelas mereka yang lain.

Sore itu, langit tidaklah bersahabat, sejak pagi mentari jarang terlihat karena terhalangi awan. Sore itu, hujan jatuh begitu cepat saat diskusi tugas dilaksanakan. Hingga tugas kelompok itu terselesaikan, hujan masih mengguyur deras dan membuat kelima mahasiswa ini bingung. Namun menjelang magrib tiba, 3 orang anggota kelompok pulang kerumah mereka masing-masing kecuali Maudy yang kebetulan tempat kosnya paling jauh dari rumah Dian. Dian juga tak mungkin mengantar Maudy ke kosnya malam-malam dalam keadaan hujan  deras maka akhirnya Maudy menginap di rumah Dian.

Keesokan harinya, Maudy pulang ke kosnya dengan diantar Dian. Sesampainya di kos, Maudy kebingungan melihat warga se-kos-an nya membersihkan halaman rumah kos, parit yang tersumbat serta kamar mereka dari lumpur dan sampah,.

“Kak Nila, kosan kita kena banjir ya?” Tanya Maudy ke salah seorang penghuni kos, Dian masih ikut mengantari Maudy menuju ke kamarnya.

“Iya Dek, tadi malam parah banget, banjirnya sampe lutut, maaf ya kakak gak bisa hubungi kamu karena nomor kamu terhapus sama kakak,” ucap Nila yang sedang membersihkan parit dekat teras rumah kos. Maudy lalu teringat sesuatu, ia meletakkan tumpukan sertifikatnya di lantai kamar. Ketika Dian menjemputnya kemarin, Maudy sedang menghitung sertifikatnya dan tidak sempat meletakkan tumpukan sertifikat itu ke tempatnya semula di atas lemari sehingga ia letakkan tepat di dasar kamar tanpa alas, kecerobohan pertama yang pernah ia lakukan.

Maudy lalu berlari cepat ke kamarnya, tangannya ingin segera meraih gagang pintu. Ia melesat melintasi pintu-pintu kamar penunggu kos lain yang sedang membersihkan kamar mereka masing-masing. Dian mengejar Maudy yang tiba-tiba berlari sangat cepat sambil terus memanggilnya.

“Maudy, tunggu, Maudy” Teriak Dian pada Maudy yang telah sampai di depan pintu kamar, di pikiran Maudy hanyalah setumpuk sertifikat dan setumpuk sertifikat yang ia tinggalkan pagi kemarin. Maudy meraih ganggang pintu dan mencoba membukanya keras-keras, ia lalu teringat sebuah kunci lalu mencarinya di dalam tas, ia dengan cepat membongkar isi tasnya dan menemukan kunci yang dicari.

Pintu kamar terbuka, tak  terlihat lantai kamar yang bersih seperti ia tinggalkan terakhir kali. Dasar kamarnya penuh kotoran dan lumpur setebal kira-kira 1 cm yang menutupi hampir seluruh permukaan lantai kamar.

Maudy bergeming, matanya melihat ke sudut ruangan, tempat tumpukan itu terletak, tumpukan itu tidak setinggi sebelumnya, sebab sebagian besar menyebar keseluruh ruangan. Ia meraihnya perlahan, mengumpulkan yang tersembunyi dibawah lumpur, matanya  mengeluarkan butir-butiran bening, sertifikatnya basah, hancur dan berserakan bersama lumpur, hanya beberapa yang sempat dilaminating berhasil selamat. 
Perbandingannya sangat sedikit yakni 1 yang selamat dari 10 sertifikat. Seluruh jerih payahnya mengumpulkan sertifikat-sertifikat itu selama setahun adalah sia-sia.

“Sudahlah Maudy, jangan ditangisi, kamu harus sadar bahwa sertifikat itu bukanlah segalanya, harusnya yang kamu cari itu ilmu bukan sertifikat. Sudahlah, kamu masih bisa kok mengumpulkannya lagi.” Dian mencoba menenangkan Maudy.

“Iya Dian,” jawab Maudy sambil terisak menahan tangis kesedihannya.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar