Minggu, 27 Oktober 2013

JUDI, TEETT...




 Keteplak… klotek-klotek,
“Nah!” Tok!
“Aduh!”
Suara-suara yang sama sekali tidak asing di XI IS 1. Indra sedang membagi-bagikan kartu pada Lukman, Heri, Adit, Farid, dan Ale. Di sudut lain, Markus sedang menggoncang-goncang gelas bekas air mineral yang berisi dadu, dan di bagian paling depan, Mila menjitak kepala Vika yang kalah dalam adu nilai menggunakan second function kalkulator. Hanya Diah dan Riska yang nganggur dan sesekali menghela napas, “Astaghfirullah…” membuat yang lain gerah.
Sejak dua bulan terakhir, entah terinspirasi dari mana, siswa kelas
XI IS 1 mendadak tergila-gila judi. Level kecil sih, tapi tetap saja namanya judi.
“Pak Toto!” seru Andi membuat teman-temannya refleks kembali ke tempat duduk masing-masing dan menyembunyikan barang-barang yang tidak ada hubungannya dengan fisika.
Istirahat nanti, Andi tidak perlu keluar kocek untuk jajan, cukup minta honor pada teman-teman yang menggunakan jasanya untuk mengintai siapa saja yang datang ke kelas paling ujung itu. Berkat kepiawaian Andi menjaga pintu, tak satu guru pun tahu kegiatan mereka saat ditinggal atau kebetulan guru yang bersangkutan tidak hadir.
“Gimana Di, dapat ide nggak?” Riska dan Husna menatap Diah yang terlihat paling mikir
“Nggak,” jawabnya singkat dengan mata melotot ke atas dan bibir bawah nyaris jatuh. Jelek.
“Pinteran mereka sih, dua kali dirazia kok gak ketangkep, ada yang ngebocorin kali ya,” Husna yang tidak sekelas dengan Riska dan Diah memutar-mutar ujung jilbabnya.
“Siapa mau nyicip?” Syifa datang membawa semangkok bakso. Kantin tidak terlalu ramai, makanya Syifa berani nawarin, namanya juga basa-basi, gak maksud ngasih.
I can not sleep, i can not dream tonight!” Syifa bersenandung sambil geleng-geleng. Ada earphone terselip di telinganya.
Namanya Asy Syifa’, berarti obat. Tapi yang punya nama sakit gitu, batin Riska sambil melirik Syifa yang rajin cengengesan.
Teet…tet…et…t…. bel bersuara standar memanggil para siswa untuk kembali ke kelas masing-masing, “Huu…” koor beberapa dari mereka terdengar sambil meninggalkan kelas XI IS 1 yang tadi paling ramai, lebih ramai dari kantin.
Syifa yang dermawan membagi-bagikan permen ke beberapa meja, termasuk meja Diah dan Riska. Mata Diah mengikuti langkah Syifa, yang tanpa disangka mengambil selembar katu remi di laci meja Indra. Di luar dugaan, Syifa melempar benda itu ke luar jendela.
“Pengumuman. Berhubung Pak Badrun tidak hadir, kita ditugaskan mengerjakan latihan halaman 21 sampai 24!” Hendri, sang ketua kelas, memberi kabar baik sambil cengar-cengir. “Tenang aja, kita jadiin PR…” usulnya yang langsung diterima seluruh warga XI IS 1, kecuali Riska dan Diah. Kebiasan lama, tugas di sekolah dijadikan PR, jadi dua jam pelajaran bisa buat santai.
“Ke mana sih, perasaan tadi lengkap?” Indra panik. Adit, Lukman, dan yang lain, termasuk beberapa anak perempuan sibuk merogoh laci, celingak-celinguk di bawah meja dan hilir mudik ke sana kemari.
“Ada apa?” tanya Syifa sok lugu
“As keriting hilang,” sahut Indra, masih kebingungan. Diah dan Riska tersenyum-senyum.
“Pulangin!” bentak Heri pada Riska.
“Apaan?” balas Riska tak kalah keras.
“Kartu, apa lagi?”
“Udah ah, gak malu ngelawan cewek, jilbaber lagi!” Syifa menarik mundur Heri, masih dengan wajah tak bersalah.
“Tuh dia!” Fatima menunjuk ke jendela.
“Yaah…” para penjudi lemas, “Mana bisa main kalau kartunya kurang, biar satu juga,” gumam Ale. “Ada yang bisa ngambil?”
Semua menggeleng. Siapa yang mau mengorbankan nyawa hanya untuk selembar kartu di ujung genteng X 6, kelas tepat di bawah XI IS 1.
Syifa cekikikan di depan pintu kelas, dua buah dadu di genggamannya ia lempar ke tengah lapangan basket.
“Lho, dadu di sini mana?” Markus membolak-balik LKS dan beberapa buku lain yang ia taruh bersama dengan dua dadunya di laci.
***
Dasar penjudi, hilang yang lama beli yang baru. Sambil mengerjakan PR kimia yang sebenarnya bukan PR—amanat Pak Badrun—tangan mereka tetap dengan beberapa lembar kartu. Di meja, beberapa lembar lima ratusan ditutupi buku pelajaran. Entah siapa yang memulai.
“Cepat…cepat!” Pak Badrun keburu datang!” Hendri berlari ke sana kemari mengumpulkan buku tulis teman-temannya
“Salah sendiri, nyaranin yang nggak-nggak.” Diah tersenyum mencemooh. Dalam hati, ia berdoa semoga Pak Badrun lebih dulu masuk ke kelas sebelum Hendri sempat menaruh buku-buku temannya di meja guru yang tak kenal tegas itu.
“Pak Badrun sakit lagi! Hore…” teriak Hendri. Diah dan Riska saling pandang. Kejam.
“Dosa lo, orang sakit kok seneng.” Syifa melotot pada Hendri, Diah dan Riska iri. Kok mereka gak seberani itu?
Baru saja dikira baik, Syifa malah sudah duduk di sebelah Vika, memelototi kartu-kartu domino. Di depannya Hendri menyeka keringat di dahi, panik, uang jajannya habis.
“Alhamdulillah…” seru Syifa sumringah, di genggamannya beberapa uang lembaran dan receh siap dibelanjakan.
“Jangan bawa-bawa nama Allah dong, itu kan uang haram!” protes Diah
“Ah ente, bukan yang ini maksud ane,” Syifa malah tambah lebar senyumnya.
“Traktir dong, Fa!” rengek Evi sambil menarik-narik kemeja Syifa. Tiba-tiba dua lembar kartu domino jatuh,”Ups, Syifa kok…”
“Diem!” Syifa menarik Evi ke luar kelas, “Kalo masih mau sehat, jangan coba-coba ngasih tau yang lain!” ancam Syifa dengan gaya preman, gaya aslinya.
“Ada apa nih?” Andi tergopoh-gopoh mendekati.
“Nggak” Evi masuk ke kelas. Pucat.
“Rebutan cowok, ya?” goda Andi pada Syifa, yang digoda sedang bingung. Mau dibuang ke mana dua kertas tebal di tangannya, kemarin ia berhasil membuang dua buah dadu karena Andi sedang berada di musola. Bukan solat, tapi numpang cuci muka. Ngantuk.
“Kok berhenti mainnya?” Syifa bertanya pada Vika, lagi-lagi dengan tampang polos.
“Kartunya ilang dua.” Vika mengibas-ibas roknya kalau-kalau nyangkut.
“Fa, tumben bajunya dimasukin?” Hendri tampak curiga.
“Emang kenapa? Sekali-sekali rapi kok salah.” Syifa berjalan meninggalkan Hendri, tangan kanannya meremas dua kartu domino di balik kemeja putihnya. Tiba di tempat duduk, Syifa lega. Sebuah tempat sampah telah menantinya. Selamat.
Riska yang sejak semula telah curiga, menjadi saksi.
Dalam satu minggu terjadi beberapa kali kasus kehilangan. Yang hilang dadu, kartu remi, kartu domino, sampai uang taruhan. Siapa yang mau lapor?
***
“Tujuh hati,” bisik Syifa, dengan sigap Evi meyodorkan selembar kartu di bawah meja. Ia kini menjadi asisten Syifa. Rahasia kenapa Syifa selalu menang, hanya Allah, Evi, Diah, Riska, dan Syifa sendiri yang tahu.
“Hehehe… menang lagi.” Syifa seolah-olah tak punya hubungan dengan Evi. Ia menuju mejanya, menghitung penghasilan dan Evi menuju jendela, membuang barang bukti kecurangan.
Selanjutnya, “Fifty fifty” ujar Syifa memberi bagian Evi. “Just for our eyes, ok?”
Evi mengangguk.
“Wah, kantin sepi tuh.” Andi melongok barisan bangku kosong di kantin, yang nampak dari depan XI IS 1.
“Pembelinya pada bangkrut, kebanyakan judi!” sambar Syifa.
“Huss, jangan keras-keras!” Andi menyikut.
“Fakta gitu loh.”
“Halah, sendirinya ikut main,” suara Riska cukup keras.
“Abis mo gimana lagi,” jawab Syifa pelan, menjauh dari Andi.
“Mentang-mentang menang terus? Curang!” Riska mendengus.
“Eh Buk Jilbab!” Syifa memanggil sekenanya. “Evi tahu kalo aku yang sering mencuri kartu dan dadu, dia harus disuap. Aku mo nyuap pake apa?”
“Bukannya kamu udah ngancam dia?”
“Iya, dan pulangnya aku diancam Nani, kakak sepupunya yang di Dua Belas IA 2!”
Riska bengong. Lucu juga, pikirnya.
Syifa berlalu, masih terus berusaha mencuri buah-buah domino, remi, dan dadu.
“Bu Ika!” teriak Riska, mengingatkan teman-temannya. Andi yang panik langsung menghambur ke kelas tanpa melihat-lihat lagi.
“Mana?” Hendri bertanya terengah-engah. Seisi kelas hening, tidak ada yang datang. Tidak ada Bu Ika, atau siapa pun. Mereka saling pandang, Riska tidak ada di bangkunya. Dikerjain!
***
“Kamu yakin?”
“Bukan kali ini saja, Bu. Tiap hari sejak lebih dari dua bulan yang lalu,” Riska mengadu, kali ini pada Bu Ika, Pembina Rohis .
“Kenapa baru lapor?”
“Sudah lapor dengan Pak Badrun, kan beliau walikelasnya. Tapi Pak Badrun belakangan sering sakit, jadi jarang masuk.”
“Ya sudah, nanti Ibu ke kelasmu.”
“Terima kasih, Bu.”
Syifa yang sedang mencari udara segar seketika berbalik arah demi melihat Bu Ika berjalan menuju kelas XI IS 1.
“Bu Ika!” teriaknya memberitahu teman-teman, menolong para penjudi. Andi yang ikut nongkrong di meja Markus cuek.
“Bo’ong! Riska aja yang keliatannya baik taunya iseng juga, apalagi Syifa.” Andi melengos, yang lain setuju.
Syifa duduk di kursinya dengan gaya paling santun.
“Oo… begini kerja kalian selama tidak ada guru?!” Bu Ika melotot dengan lototan paling heboh dalam satu tahun terakhir. “Diam di tempat, saya mau tahu mana oknum-oknumnya!” bentaknya bak seorang polwan.
Bu Ika menggeledah kelas bersama beberapa guru lainnya.
Lalu…, “Indra, Markus, Syifa, dan kamu Hendri, ikut saya ke kantor!”
“Tapi, Bu. Saya…”
“Diam!” suara Bu Ika memotong kasar ucapan Syifa. Syifa hanya mampu memandangi Diah dan Riska, mohon pertolongan.
Di kantor dewan guru.
“Indra, di mejanya ada kartu remi. Markus, terdapat dadu di sakunya. Syifa, di tasnya ditemukan satu buah domino. Dan Hendri adalah yang paling bertanggungjawab sebagai ketua kelas,” pembacaan dakwaan dengan suara menggelegar oleh Bu Ika.
“Sekarang sebutkan nama-nama yang terlibat!” pinta Pak Galih, wakil kepala sekolah bagian kesiswaan.
“Semua, kecuali Riska dan Diah,” sahut mereka.
“Via?” tanya seorang guru.
“Ikut.”
“Intan?’
“Juga.”
“Dani?”
“Jagonya.”
“Fadli?”
“Itu lagi.”
“Sebenarnya saya nggak, Bu.” Syifa memelas.
“Apaan?”
“Enak aja!”
“Gila!”
Indra, Markus, dan Hendri sewot.
“Tanya saja ke Riska dan Diah.”
***
Besoknya, setelah hasil sidang diputuskan, kelas XI IS 1 hanya diisi Riska dan Diah. Seperti les privat, mereka belajar Kimia dengan Pak Badrun.
Yang lainnya sedang menikmati hukuman membersihkan musola, lapangan, dan kamar mandi. Syifa dihukum paling ringan atas pertolongan kedua temannya, Riska dan Diah.
Di lapangan basket.
“Ngos… ngos… ngek.” Syifa terengah-engah, rambutnya basah oleh keringat.
“Ayo, baru empat puluh, enam puluh keliling lagi!” Bu Ika berteriak dari pinggir lapangan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar