Sabtu, 20 Juli 2013

CINTA SEGI BANYAK



 
“Itu orang apa bidadari, ganteng banget!”
“Bukannya bidadari tuh cewek?”
“Trus kalo yang masuk surga cewek, dapat cewek juga?!”
“Iya ya.... Eh, kamu udah pernah liat bidadari?”
“Pertanyaan kok nggak mutu gitu.”
“Lagian sok tau, kayak bidadari... pernah liat juga nggak.”
“Ya udah, kayak bulan aja.”
“Tapi permukaan bulan kan bolong-bolong, sementara wajah si Tito tuh asli mulus banget!”
“So, mirip siapa dong?”
“Leonardo Dicaprio.”
“Lebih gelap.”
“Hritik Roshan.”
“Kurang tinggi.”
“Mat Solar.”
“Enak aja!” Lia menjitak pelan kepala Caca.

Keduanya sedang memperhatikan anak baru di 11.C yang sedang memamerkan kebolehannya bermain basket. Tapi yang dilihat oleh para penontonnya bukan gaya lay up Tito yang memukau, melainkan tampang cutenya yang konon mendebarkan.
“Eh lagi merhatiin Tito, ya?” Risa mendekati Lia dan Caca.
Yang ditanya tak menjawab.
“Gak usah ngayal yang muluk-muluk deh, tuh cowok dah pedekate sama aku.”
“Emangnya yang main basket di sana cuma Tito doang?” Lia menjawab dengan lagak cuek.
“Ada Ari, Dino, Irfan...”
“Udah tau! Dikira aku nggak kenal sama mereka, pake disebutin segala,” Risa memotong ucapan Caca, kemudian berlalu meninggalkan dua temannya yang tersenyum menang.
“Kamu percaya, Li, sama ucapan Risa tadi?”
“Nggak,” Lia menjawab tanpa menoleh, pandangannya masih tertuju pada lapangan basket. Padahal Tito dkk sudah bubar bersamaan saat Risa meninggalkan mereka.
“Dia kan tampangnya sederhana, kayak kita juga.”
“He he, lugu amat sih!”
“Jujur, gitu na!”
***
“Ok, Class. Kita ulangan, ya.”
“Hah?!” seluruh siswa 11.A tersentak kaget mendapat surprise dari Bu Dewi, guru kimia yang suka bercuap-cuap dengan bahasa Inggris ala kadarnya.
“Kenapa tidak diberitahu sebelumnya, Bu?” Sarita coba melobi dengan beretorika.
“Pernah ada perjanjian demikian? I don’t think so,” Bu Dewi menjawab santai.
Number one, lima gram garam dapur....”
32 siswa di hadapan Bu Dewi buru-buru mengeluarkan buku khusus ulangan kimia.
“Kamu kenapa senyum-senyum, sudah selesai?” Bu  Dewi menghampiri Ira, cewek centil yang duduk di sudut depan.
“Belum, Bu.”
“Ada yang lucu?”
“Nggak.”
What is this?” Guru kimia berkacamata minus itu mengambil sehelai kertas yang melapisi bagian bawah buku tulis Ira.
“Jangan diambil, Bu, biar saya simpan,” Ira memelas saat Bu Dewi menyita kertas surat yang sebenarnya sudah ia baca berulang-ulang kali.
“Apa? Kamu berani melarang saya, siapa yang mengizinkan kamu membaca surat cinta saat ulangan?”
“Surat cinta?” 29 orang di kelas langsung ambil suara, sementara Ira mengkeret dalam tatapan Bu Dewi.
Seseorang menahan tawa. “Kena, lu!” Ichal menutup mulut dengan sebelah tangan.
“Kok ketawa sendiri, Chal?” tanya Amin yang duduk di sebelahnya.
“Lagi pengen aja.”
Dear you... nggak tau kenapa aku terus saja terbayang tentang kamu. Nyadar nggak sih, kalo kamu tuh tipe aku banget. Senyum kamu, bodi kamu, rambut... pokoknya semua deh...,” Bu Dewi membacakan petikan surat cinta dari Tito untuk Ira.
Semua mendengarkan dengan seksama dan langsung tertawa tanpa dikomandoi. Ada yang sekadar memperlihatkan gigi, ada yang ngakak, ada yang sampai terbatuk-batuk, bahkan ada yang jatuh dari kursinya.
“Bodi yang mana?” Amin garuk-garuk kepala.
“Bener gak ya itu surat dari Tito?” Caca penasaran.
“Gila aja, gak sebanding banget! Masa sih, Tito sampe ngirim surat ke dia,” balas Lia.
“Kali aja, kan.”
“Tadi Risa, sekarang Ira. Mereka kan tampangnya sederhana banget, seperti yang kamu bilang. Kita ikutan kompetisi buat dapetin si Tito, yuk!” ajak Lia bersemangat.
“Ayo!” tanpa diduga Caca langsung menerima.
Keduanya bersalaman. 
“Ma, ada salam dari Tito,” ucap Ichal pada Fatima.
***
“Eh sori, nggak sengaja.” Caca sengaja menabrak Tito yang sedang menuliskan sesuatu di dinding.
“Gak pa-pa.” Tito tersenyum manis.
“Nulis apaan?” strategi. Caca sok peduli.
“Cuma mo nyobain spidol, masih nyata apa nggak.”
“Aku punya yang baru, kalo mau kamu bisa pinjem.” Caca mengeluarkan sebuah spidol baru dari tasnya.
“Thanks ya, ntar aku pulangin di kelas. Caca, kan?” ternyata Tito mengenal Caca.
“Eh, ya, ya.” Caca gelagapan.
Sampai bel pulang berbunyi, Tito belum juga muncul ke kelas 11.A untuk mengembalikan spidol Caca. Kata-kata yang telah dirangkai Caca di otaknya perlahan buyar membuat Caca gondok.
***
Minggu pagi di lapangan basket sekolah. Lia menjadi anggota baru tim basket putri, satu di antara cewek-cewek lain yang tiba-tiba punya minat yang sama.
“Kak Lia celingak celinguk nyari siapa?” Rika, adik kelas Lia bertanya.
“Nggak nyari siapa-siapa.”
“Asal tau aja, pelatihnya galak lho. Kalo nggak konsentrasi bisa-bisa dilempar pake bola!” Rika mengingatkan.
“Cowok cewek sama aja?” Lia mulai gentar.
“Iya, tapi untuk sekarang masih aman. Soalnya Pak Herman yang galak itu sedang melatih tim cowok di hall. Kita nanti dilatih sama Pak Jeri, guru olahraga sekolah.”
“Jadi cowok sama cewek latihannya pisah?”
“Iya.”
“Kalo gitu aku pulang ah, batal jadi anggota!” Lia bergegas meninggalkan Rika yang masih kebingungan.
“Coret lagi... coret lagi, sudah dua belas orang.” Rika mencoret nama Falia Zaki dari daftar anggota.
***
Please tell me why do birds sing when you near me.... The Day After Tomorrow, lagu basi milik Saybia mengalun dari speaker ponsel Caca. Ia turut menyanyi sambil membayangkan dirinya berkaraoke bersama Tito.
“Mmm...mmm...m.” Caca kurang bisa berbahasa Inggris, tapi dalam khayalannya bisa. Nomor yang masuk tidak dikenal, jadi tak usah buru-buru diangkat.
“Halo,” sapanya kemudian pada si pemanggil.
“Caca, ini Tito. Sori, tadi nggak sempat mulangin spidol kamu.”
“Gak pa-pa.”
“Sebagai permintaan maaf, mau nggak kamu nemenin aku ke party temen.”
“Mau banget.” Caca tiba-tiba jadi murah, tanpa basa-basi.
“Tapi...”
“Apa?”
“Aku nggak punya kendaraan.”
“Ya udah, aku bawa mobil Papa. Kamu mau dijemput di mana?”
“Di counter Jack, jam tujuh.”
“Oke.”
Tito menutup telepon, lalu, “Yess, yess!” ia meninju udara di atasnya.
***
“Kenalin, ini sepupuku. Namanya Caca.” Tito memperkenalkan Caca pada Mona, pemilik rumah yang mengadakan pesta ulang tahun.
“Mona.” Gadis cantik itu menyalami Caca.
Caca masih termangu. Sepupu?
“Met ultah ya, ini dari kita berdua.” Tito memberikan sepasang pulpen unik dan elegan terbungkus kertas kado rapi yang barusan ia beli bersama Caca. “Sepupuku suka nulis,” rayunya waktu itu pada Caca.
“Gimana sih, katanya dia sepupu kamu, trus dengan dia kamu bilang aku sepupu kamu,” Caca protes pada Tito.
“Syarat datang ke pesta ini, gak boleh bawa gebetan apalagi pacar,” jawab Tito, sementara matanya masih tertuju pada Mona.
Caca langsung sumringah, ia lupa kenapa tadi Tito mengatakan padanya bahwa Mona adalah sepupunya.
***
Hal terunik dalam hidupku, aku tiba-tiba berpaling dari beberapa wanita ke seseorang yang tampak biasa. Kukira inilah yang namanya cinta, ya cinta. Ada yang istimewa dari dirimu, karena setiap indraku merasakanmu kalbuku langsung tersentuh....
“To, ada waktu bentar gak?” Lia menemui Tito di kantin sekolah.
“Ada apa?”
“Kamu ada ngirimin aku surat?”
“Surat?” Tito mengerenyitkan dahi.
“Ini.” Lia memberikan amplop berisi surat yang ia dapatkan terselip di salah satu buku.
Tito tampak menahan tawa sambil terus membaca surat di tangannya, dan akhirnya tawa itu pecah seiring dengan usainya ia membaca.
“Gila! Romantis banget,” ujarnya masih dengan terbahak. Lia tidak menunggu penjelasan, ia segera pergi. Sudah berpasang-pasang mata yang memperhatikan mereka. Ichal yang baru turun dari tangga ikut tertawa lalu naik kembali.
Lia menuju kelasnya dengan wajah yang diusahakan sewajar mungkin. Kertas surat yang ia ambil kembali dari Tito ia remas-remas hingga tergenggam sempurna di tangan kirinya. Caca tampak berlari-lari kecil di kejauhan. Lia lebih memilih segera masuk sebelum Caca tahu benda apa yang ada dalam kepalannya.
“Ini semua gara-gara Tito!” terdengar keributan di kelas.
Caca yang baru saja lewat, mundur perlahan demi mendengar nama Tito disebut, begitu juga dengan Lia yang hampir sampai ke mejanya.
“Dulu ipod aku nggak pulang pulang, trus CD ori Muse sampe sekarang nggak balik, eh duit buat bayaran juga nggak kamu bayar sampe sekarang. Aku bisa diusir, nih!” suara Eki terdengar membentak.
Risa, lawan adu mulutnya tertunduk malu.
“Kenapa bengong, Ca?” Lia mendapati sahabatnya sedang menganga dengan pandangan tanpa fokus.
“Apa hubungannya sama Tito, Ki?” tanya salah satu teman sekelas mereka pada Eki.
“Jelas berhubungan, selama ini kan Risa minjem barang-barang dan uang aku untuk nyenengin Tito, padahal sebelumnya gak pernah begini. Karena temen, ya aku kasih.” Eki masih emosi.
“Makanya jangan percaya tampang doang. Yang baek ada, yang buaya dikejar-kejar!” Ichal muncul di antara mereka. “Kalian tuh dimanfaatin, ngaca dong! Masa Tito yang gantengnya minta ampun mau-maunya sama kalian.”
“Kejam!” rajuk Ira yang juga berada di sana.
“Kenyataan memang pahit, Sobat,” balas Ichal.
“Belum tentu ah, Ichal sirik kali,” akhirnya Lia ikut berkomentar.
“Coba deh tanya sama dia, kenal Mona nggak!”
“Siapa Mona?” Risa mulai berang.
“Calon gue.”
“Jadi itu sebabnya lu ngirim-ngirim surat palsu atas nama gue?” Tito berkacak pinggang di antara kerumunan mantan pengagumnya. “Kalo bersaing yang sehat, dong!”
Ichal tampak kikuk, ternyata ia gentar juga melihat Tito bersama teman-temannya, “Surat palsu apaan?’ elaknya.
“Dia saksinya.” Tito menunjuk Amin. “Dia yang sering liat lu nulis surat atas nama gue.”
Ichal tidak bisa berkata apa-apa, ia makin panik ketika para penonton mulai bubar barisan. Bakal tidak ada yang melerai jika ia dan Tito berkelahi. 
“Kamu pernah dikerjain Tito atau Ichal?” Caca menarik Lia ke mejanya.
“Nggak pernah, kamu?”
“Nggak.” Caca menggeleng.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar