Jumat, 14 Juni 2013

Hanya Jingganya


          Seperti berada di dua jalur persimpangan hidupnya, jalur kiri terdapat jalan setapak menuju ke tempat aku yang sedang berdiri, menunggu, jalur kanan menuju jalan panjang yang berujung cahaya terang. Dan ia pun memutuskan untuk mengambil jalur sebelah kanan. Lalu ia berjalan, berjalan, berjalan terus.. hingga mendapati cahayanya. Tidak menghampiriku yang sejak lama menunggu.
        

***

“Brukk !” Aku baru saja pulang kuliah.  Meletakkan tas ke tempatnya dan seperti biasa, mengecek ponsel yang hari ini sengaja aku tinggalkan di kamar. Tidak ada apa-apa. Tidak ada pesan masuk seperti biasanya, lebih tepatnya pesan-pesan masuk lima bulan belakangan. Ucapan selamat pagikah, siang, atau malam barangkali, tidak ada salah satunya menyangkut di nomor selulerku ini. Tidak ada lagi. Semua terasa berbeda, dan seperti asing, berubah 180 derajat atau bahkan memutar-mutar 360 derajatnya. Tidak seperti sebulan terakhir kami berkomunikasi.

          ***

          ‘Selamat pagi Dek Sekar, abis sarapan jangan lupa minum obatnya ya.. biar ntar gak pusing lagi kaya semalem..’  pesan pun masuk ke ponsel ku. Mas Galuh lagi. Hanya namanya saja yang memenuhi inbox ku.
          Sudah hampir setahun ini aku dan Mas Galuh berteman akrab di sebuah komunitas yang kami bangun bersama. Sebuah komunitas yang ber-visi mengakrabkan tali silahturahmi, bersahabat, antarpemuda di seluruh Indonesia. Kami mewakili domisili provinsi tempat kami tinggal, dan penggagas utama dari domisili kami adalah Mas Galuh. Aku adalah orang yang ke tiga masuk di komunitas yang terjalin berkat media jejaring sosial ini. Kini kami telah ber-dua puluh orang, dan selalu mengadakan event-event menarik setiap bulannya. Mungkin, karena acara dari perkumpulan kami inilah, aku dan Mas Galuh menjadi semakin akrab di luar dari pertemuan rutin antaranggota.
          ‘Iya, thanks mas, Sekar berangkat kuliah dulu, fokus ke kerjaan ya mas, see u’ , Ibu jariku menekan tombol send untuk mengirim pesan balasan ke Mas Galuh.
          Mas Galuh berusia lebih tua tiga tahun dariku, berumur sekitar 22 tahun. Ia adalah seorang pekerja di salah satu perusahaan milik negara. Ia yang memiliki badan proporsional dan sedikit berisi ini sama-sama memiliki hobby nonton dengan ku. Kami sering sharing, bertukar cerita tentang film-film menarik yang telah kami tonton. Mungkin karena ini juga-lah kami jadi semakin akrab.

          ***

          “Mas ingin memiliki pasangan seperti Ainun, Dek” ucapnya ketika kami baru saja keluar dari theater 1 setelah nonton film Habibie-Ainun.  Aku yang dari tadi hanya diam, memutar otak menjabarkan kalimatnya barusan. Mungkin saja sebuah klamufase seperti iklan yang menarik untuk kami bahas. Tapi bukan itu penjelasan yang sejak awal ada di pikiranku. Apa maksud ia berkata seperti itu?
          “Kalo Adek, ingin memiliki pasangan seperti siapa? Pak Habibie, kah?” tanya-nya seakan memaksaku untuk menyudahi keheningan ini. Selintas senyum bergelayut di bibirnya seakan isyarat ia siap mendengarkan jawaban dariku, seperti menunggu aku berucap sepatah-duapatah kata dariku. Yang ditanya hanya bisa menunduk, melihat langkah sepasang kaki yang berjalan mengarah ke eskalator.
          “Seseorang, yang lebih baik, dari Habibie, Mas.” Ragu-ragu, aku jawab sekenanya sambil menaiki eskalator yang mengarah ke bawah. Tidak sepenuhnya mengada-ngada. Karena kini aku mulai dapat mengerti tentang perasaanku pada Mas Galuh.

          ***

          ‘Bagiku, masa lalu bukan untuk kau lupakan, atau kau hanyutkan ke sungai kehidupan sekalipun. Bukan membakar semua kenangan, menghapus semua file, atau menenggelamkannya. Tutup saja, lalu aku harus berdamai dengan kenyataannya. Berdamai dengan berlembar-lembar goresan kebahagiaan, keceriaan, kesetiakawanan, dan berbagai buah perhatian ketika aku mulai mengerti arti rasa ku terhadap Mas Galuh’, bisikku dalam hati yang sedang menguatkan argumen bahwa aku harus berdamai, menutupnya, dan akan dibuka sesekali waktu saja.
          Hari yang begitu melelahkan hati. Mengenang kenangan selepas satu bulan tertutup itu masih meninggalkan perih,  sedikit. Aku yang sedari tadi berada depan jendela kamar, mengamati langit yang mulai berubah warna hampir menyamai senja.
          ‘Bisa jadi ia seperti jingga-nya senja. Hanya samar-samar  bergantung pada langit dan tak lama mengikuti lagi senja-nya pergi.  Mungkin saja begitu...’ pikirku lagi, sambil mendongakkan kepala menanti senja tenggelam di kaki cakrawalanya.

          ***

          Setelah kejadian nonton bareng itu, aku selalu ingin mencari tahu tentang kesehariannya Mas Galuh. Di lingkungan kantornya kah atau di lingkungan pergaulannya. Suatu ketika aku mengecek jejaring sosial milik Mas Galuh, dan tidak sengaja aku menemui sebuah kiriman dari seorang perempuan yang berdomisili di Kota Padang. Rindy Ardilla nama akunnya. ‘Wanita berkerudung nan cantik jelita, kakak ini tak asing lagi. Siapa ya?’, celetuk hatiku. Ia mengirim pesan bahwa ia sangat merindukan kehadiran Mas Galuh di kotanya.
          Aku perhatikan foto profil yang ia pakai di akunnya, tiba-tiba aku mengingat sesuatu, dan “Oh iya, kakak Rin, ketua komunitas padang. Eh ternyata, mereka deket ya.” suara ku mulai melemah menyaksikan kenyataan-kenyataan yang ada. Mereka berceloteh di akun Mas Galuh, seperti ketika Mas Galuh berbagi ceritanya padaku.
Sepertinya semua telah terpampang jelas. Aku memang sering dengar gosip anak-anak komunitas tentang kedekatan Mas Galuh dengan Kak Rin, tapi aku tak pernah tau kalau Kak Rindy ini yang mereka maksud. Dengar-dengar, sejak Mas Galuh pulang dari Padang mereka pun menjalin asmara. Dan gosip-gosip itu selalu aku tepis, mungkin saja hanya kabar-kabar burung yang sengaja mereka buat. Tetapi ini nyata adanya. Mereka telah jadian.
***
“Mas Galuh sama Kak Rindy ya?” obrolanku memecah kesunyian yang sejak tadi mengerumuni kami yang hanya duduk berdua menunggu teman-teman lain datang. Hari ini kami berkumpul membahas project acara selanjutnya.
“Sama? Maksudnya?” Mas Galuh malah berbalik tanya padaku.
“Itu, gosip anak-anak, katanya jadian ya?” aku memberanikan diri bertanya ke pokok pembicaraan.
“Nggak kok Dek, kami cuma deket sebagai temen aja..” jawabnya.
“Tapi Mas, sepertinya ia menunggu mas datang lagi ke Padang. Sana deh mas temui Kak Rin” ceplosku sekenanya.
“Nggak dek, nggak ada apa-apa, ngapain harus ke Padang?” tepisnya.
“Iya, karena kekasih Mas Galuh menunggu Mas Galuh bermain-main lagi ke sana. Bukan kemari, memain-mainkan hati seseorang !” suaraku parau, menahan tangis yang sengaja dikeraskan. Lalu aku berdiri, menoleh ke arahnya lagi, “Ntar kalo udah pada dateng, kabarin ya Mas” aku berjalan ke arah parkiran motor.
“Adek mau ke mana?” tanyanya buru-buru.
“Ada ke suatu tempat, sebentar”, aku melajukan motorku ke arah barat daya lapangan tempat kami biasa berkumpul.

          ***

          Aku mengetahui semuanya dari obrolan chat antara aku dan Kak Rin. Kami mengobrol layaknya teman biasa. Sesekali, ia sendiri yang sering terceplos mengucap nama Mas Galuh di obrolan chat kami. Ketika aku tanyakan mereka memiliki hubungan apa, katanya telah menjalin kasih sejak lima bulan yang lalu, tepat ketika Mas Galuh mengunjungi komunitas yang bernama sama dengan kami, tetapi berbeda domisili ini. Dan aku, aku merasa bahwa lima bulan kedekatanku dengan Mas Galuh seperti dipermainkan.

          ***

Masih di depan jendela kamar sambil mengotak-atik inbox pesan masuk ketika aku dan Mas Galuh masih saling berhubungan. Sore ini mungkin awal aku akan lepas sepenuhnya. Cita-cita masa depan yang telah aku bayangkan kelak bersama Mas Galuh, kini sirna sudah. Satu bulan yang lalu terakhir kami berkomunikasi. Sambil menatap langit yang kini mulai samar-samar gelap. Aku pun berjanji, kelak ketika matahari tenggelam bulat sempurna, maka akan tenggelam pula semua rasa-rasa ku terhadap Mas Galuh, bisikku dalam hati.
          Kali ini senja telah sepenuhnya tenggelam, aku menyaksikan detik-detik menggagumkannya. Sekarang tinggal sisa-sisa warna jingganya yang senang berlama-lama membuntuti senja.

          “Bisa jadi aku hanya menggangguminya, bukan mencintai atau menyayangi. Iya, aku hanya kagum. Kagum padanya.” Aku menguatkan kata kagum dan sengaja berulang-ulang. “Karena hanya jingganya yang masuk ke keseharianku. Pasti aku hanya kagum”, ulangku sekali lagi, agar tidak terlalu sakit. Hati. (Oqiesy

Tidak ada komentar:

Posting Komentar