Kamis, 25 April 2013

SUICIDE BOMB



Orang-orang hilir mudik, kepala mereka mendadak pening mendengar berita peledakan kapal perang Israel di pantai Beirut oleh Hizbullah.
“Gila! Teroris terkutuk!”
“Monyet!”
“Setan!”
Ariel memicing. Didengarnya lagi makian itu, padahal sebelumnya para tentara ini, dari komandan hingga prajurit kelas teri, yakin Hizbullah dapat dihabisi tak lebih dari satu pekan. Sesumbar. Libanon bukan Mesir, Tuan! Meski perlakuan pemerintahnya mirip tindakan Gamal Abden Naser terhadap Ikhwanul Muslimin, tapi zaman telah berubah. Gerakan-gerakan Muslim tidak bisa dipandang sebelah mata.
Pemuda dua lima itu memilih tetap tenang, ia malah selonjor menunjukkan ketidakpedulian.
“Hey, gila! Apa kau ingin Yahudi punah?”

Ariel mengangkat sedikit kepalanya, melihat baik-baik yang menghardik. “Kenapa kalian panik? Buat saja strategi baru, adu domba Hizbullah dengan Hamas misalnya, atau bantai habis seluruh Muslim di Palestina, Libanon, dan Suriah, lalu lemparkan bom ke Bali agar dunia menoleh ke sana dan lupa pada Arab.”
“Kau memang agen pilihan, idemu brilian. Tapi kali ini, kulihat kau sangat idiot!”
Ariel memperbaiki posisi duduknya. “Dov, berhentilah memakiku. Kau kasar sekali.”
Plak! Mendadak tentara yang dipanggil Dov memukul kepala Ariel. “Lihat, kau pun sudah tak refleks menghindar! Kau tahu, Bocah, keuangan negara ini memburuk! Kita kolaps!” 
Wajah Ariel memerah, urat lehernya bertonjolan. “Lebih baik kau diam! Apa kau tahu ada banyak agen Mossad dan Shinbeth di berbagai negara, bahkan di kampung Muslim sekalipun? Kau tahu bagaimana kuatnya jemari Jacob di atas kepala pemimpin negara-negara itu? Uang bukan apa-apa, kita bahkan bisa meraupnya dari tanah Arab atau Melayu sana!”
Dov beranjak. Matanya tajam, penuh kebencian. “Hanya orang bodoh yang tidak tahu itu. Tapi kurasa, kau pun tak tahu apa yang akan terjadi pada Yahudi cuek. Sepertimu!”
“Dipecat? Aku siap. Lebih baik berlibur ke Paris, Bali, oh, jangan Bali, di sana teman-temanku sedang pesta bom—kasihan al-Qaidah, jadi kambing hitam. Pattaya saja, atau….” Ariel masih berkicau, sementara Dov sudah jauh darinya.
***
Al-Maghariba, salah satu pintu al-Aqsha masih digali. Ariel berdiri cukup jauh dari lokasi, sambil menyaksikan perkembangan penggalian yang hanya diketahui orang-orang tertentu. Masjid itu harus runtuh! Demikian perintah Olmert, meneruskan proyek perdana menteri sebelumnya, Sharon, yang kini hidup tidak, mati pun entah.
“Es Bi. Tiga hari lagi.”
“Ulangi!”
“Ck, ini jalur…”
“Sst!”
Klik.
Ariel meraba-raba finger talky. Ia yakin telah mendengar sebuah percakapan yang sepertinya rahasia. Ceroboh sekali! Bagaimana jika obrolan itu didengar pejuang Palestina?
  Di kejauhan, seseorang berpenampilan layaknya wartawan nampak hendak mendekat. Ariel bergerak perlahan, tak boleh ada yang tahu bahwa ia seorang agen Mossad, intelejen Israel.
Wartawan Yediot Aharonot itu ternyata sedang meliput sebuah aksi solidaritas pemuda Palestina terhadap Libanon yang juga tengah dibombardir Israel. Di tiap sudut, tentara Israel siaga dengan pakaian perang lengkap. Ariel dan wartawan itu sendiri sebenarnya geli, pengecut sekali bangsa mereka. Menghadapi orang-orang bermodal minim—hanya tutup muka dan batu—dengan senapan otomatis dan tameng.
Finger talky Ariel bergetar, “Jam tiga,” seru sebuah suara.
Ariel menoleh ke kanan, seorang perempuan terlihat berjalan cepat menjauhi keramaian. Ia menyusul melalui rute lain, memotong jalan.
“Jangan bergerak, Cantik!” Ariel menekan tubuh seorang perempuan berwajah Eropa ke tembok.
“Ada apa ini?” tanyanya.
“Kau mencolok sekali. Ini daerah konflik, akan lebih aman mencari data di Tel Aviv.” Ariel mendekap perempuan itu, “Kau akan selamat jika mau bekerjasama.”
“Apa maksudmu? Aku ini wartawan!”
“Jangan pura-pura, Nona. Sebelum bergerak aku sudah membaca semua riwayat hidupmu. Nama, orangtua, pekerjaan… termasuk keadilan yang sedang kau upayakan untuk orang-orang tertindas.”
“Biadab!”
Ariel menarik paksa kalung yang melingkar di leher perempuan itu. Alat perekam kecil, ia lepaskan dari balik mata liontin.
“Kau bukan Muslim, kenapa bersusah payah mengurusi orang-orang bodoh itu?”
“Mungkin mereka bodoh, tapi tidak biadab seperti kalian!”
“Kebodohan itulah yang memancing kebiadaban. Ah sudahlah, perempuan tahu apa.”
Dengan langkah ringan, Ariel meninggalkan perempuan itu. Satu lagi tugasnya usai, mengambil-alih hasil rekaman perempuan yang berempati pada perjuangan Muslim. Benda di tangannya berisi penyiksaan tahanan Palestina dan penggalian terowongan di bawah masjid al-Aqsha.
***
“Besok kau harus ke Gaza, menyelidiki perkembangan Hamas dan pengungsi Palestina. Sebelumnya, kacaukan Fatah. Bunuh beberapa dari mereka. Jangan lupa menyamar sebagai tentara Hamas!”
“Dan jangan terlalu sering ganti pakaian!”
“Apa pedulimu?” Ariel melirik Dov sebal. Entah kenapa, tentara paruh abad itu kini sering berada di sampingnya.
“Kau tidak dikenali, Bocah!”
“Jangan panggil aku…”
“Cukup!” atasan Ariel memotong. “Kau Ariel, kenakan satu baju untuk satu hari. Kami kesulitan mendeteksi keberadaanmu jika kau terus bertukar pakaian.”
Ariel mengangguk, kemudian berdiri perlahan. Baru tadi pagi ia pulang dari Yerusalem, besok Ariel sudah harus meninggalkan Haifa menuju Gaza.
“Jangan menganggapku sebagai musuh, Nak!” Dov merangkul bahu Ariel, bersama-sama menuju ke luar.
Ibu jari Dov berdiri di belakang punggung Ariel. Seseorang yang duduk tak jauh dari mereka tersenyum puas.
***
“Es Bi, Tiga hari lagi. Ada apa sebenarnya?” Ariel berbisik. Tubuhnya hanya dibalut pakaian dalam.
Diperiksanya kembali kemeja hitam yang tadi ia kenakan. Ariel tahu, ada sesuatu yang ditempel Dov di pakaiannya. Tentara itu lupa, Ariel bukan agen sembarangan. Ia melihat jelas gerakan tangan Dov dan senyuman berarti atasannya dari pantulan cermin di sisi kanan mereka tadi.
Ada benda tipis transparan selebar kancing baju di belakang lengan kemeja Ariel. Jika itu bagian dari tugas, kenapa atasannya tak memberitahu. Kenapa Dov harus meletakkan benda itu tanpa sepengetahuan Ariel. Jika ini konspirasi, apa kesalahannya. Semua itu mengingatkan Ariel pada percakapan yang tanpa sengaja masuk ke finger talky-nya kemarin.
“Es Bi. Street Back, Sound Bomb…” Ariel menggeleng. Ia terus bicara sendiri, menebak-nebak. Apakah Es Bi merupakan password, atau komando! “Suitable Suicidedamn! Suicide Bomb!”
Wajah Ariel menegang. Suicide bomb, atau bom syahid menurut pejuang Palestina. Ini program keji pemerintah Israel yang tega mengorbankan agennya. Ariel mengangguk paham. Ternyata ia dianggap tak berguna lagi, dan tubuhnya akan diledakkan sewaktu-waktu jika posisinya tepat. Satu-satunya cara memperpanjang umur adalah dengan selalu berada di tengah-tengah pejabat Israel. Harus pejabat! Tentara biasa takkan diperhitungkan, apalagi jika ia nekat berada di antara orang-orang Palestina.
Tapi siapa bisa menjamin ia akan tetap berada di kantor atau hotel milik Israel? Ia cukup aman jika berada di Haifa atau Tel Aviv, bagaimana jika di Gaza. Yup, tiga hari. Ternyata penugasannya ke Gaza adalah untuk mengantarkan bom mini berkekuatan dahsyat ini ke pemukiman pengungsi atau ke tempat persembunyian Hamas.
“Kau benar, Israel memang biadab,” ujar Ariel pelan. Di kepalanya, bayangan perempuan Eropa yang bersimpati pada perjuangan Muslim kemarin muncul tiba-tiba. Sayang, perempuan itu sudah dieksekusi oleh agen lain.
***
“Kau akan ke mana, Pak?”
Senyum Dov terkembang, bangga mendengar sapaan Ariel.
“Kupikir kau takkan insaf, Nak. Terus terang, aku sudah lama menjadi tentara, dan cukup senior untuk membina anak-anak muda Yahudi menjadi Lohemei Herut Israel sejati.”
“Terima kasih.” Ariel memeluk Dov. “Bus sebentar lagi datang, tugasku di Gaza sudah menunggu. Jangan marahi aku lagi, Pak!” candanya.
Dov mengangguk. Sepergi Ariel, ia berujar, “Terlambat!”
***
Pantai Pattaya, Thailand.
“Es Bi.” Ariel menekan salah satu tombol di hand phone. Benda tipis transparan yang dua hari lalu ditempel Dov di kemejanya, telah ia kembalikan pada tentara itu saat berpelukan kemarin. Ditambah dua buah lagi—yang Dov tempel di pinggang jeans Ariel dan berhasil dikembalikan sebelum ia pergi—dihubungkan dengan sinyal berskala internasional, dipastikan sebuah dentuman superkuat akan mengubah tubuh Dov menjadi cabikan-cabikan kecil.
Detik yang sama di Haifa, 35 kilometer dari perbatasan Libanon.
DUARR!!
Samudra api membumbung, angkasa seolah pecah oleh gemuruhnya. Ratusan orang-orang terkutuk luluh lantak termakan dosa. Haifa berubah menjadi kawah!
Hizbullah Harus Bertanggungjawab, demikian headline Yediot Aharonot. Daripada harus mengangkat berita, bahwa agen negaranya telah menghabisi markas sendiri!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar