Minggu, 03 Maret 2013

HIDAYAH LEWAT SI BREWOK


“Tolong…!” suara perempuan. Aku sempat ragu, cari atau lari, lari? Carilah!
“Tolong…!” suara itu makin dekat tapi terdengar melemah.
Di ujung lorong kujumpai seorang gadis sedang mempertahankan diri dari laki-laki brewok yang iseng nempel-nempelin badannya yang gemuk.
Buk! Entah siapa yang menyediakan kayu balok sebesar paha di tempat sepi itu, si brewok pingsan mendapat pukulan di tengkuknya.
Kubantu korban berdiri. Heran, yang begini kok dijahatin. Yang kelihatan cuma muka dan telapak tangan, bau parfum pun nihil.
Ada yang ilang, Mbak, Kak, cewek…, aku panggil apa nih?” tanyaku akrab.
“Aliyah,” ia tersenyum.
Mmm, ini mungkin yang menarik hati si brewok.
“Anak i-a-i-en?” tanyaku lagi.
Ia menggeleng. “Unja,” ralatnya.
Tak lama kemudian, kami berjalan bersamaan meninggalkan penjahat brewok yang terkapar di ujung Lorong Putra yang buntu.
Tiba di luar lorong, Aliyah menyetop sebuah mikrolet, aku menyeberang jalan, kami berpisah, mudah-mudahan untuk bertemu lagi.
Aku tadi keluar rumah setelah Ashar, pukul empat lewat tiga menit. Saat melewati TK di seberang rumah, sayup-sayup terdengar suara Aliyah meminta tolong. Pada jam segitu jalanan sekitar memang sepi, pantas saja ia hampir menjadi korban pelecehan. Aliyah baru saja pulang dari rumah tantenya yang ternyata sedang kosong, kasian, sudah jatuh tertimpa tangga, untung nggak nyemplung! Mungkin sekarang Aliyah sedang bernasyid ria menyanyikan Thank You Allah-nya Raihan.
***
Hhh… pagi yang dingin untuk ukuran Jambi. Usai shalat Subuh, kembali kurebahkan badan untuk melanjutkan mimpi menyelamatkan bocah Palestina dari tentara biadab Zionis. Tratat… tat, tar, taar!! Entah bunyi apa sebenarnya, yang jelas dalam mimpi, itu adalah desingan peluru yang seliweran antara Hamas dan Israel.
***
“Saya hadir, Bu,” aku melapor pada dosen Bahasa Inggris yang baru saja melewatkan namaku dari absennya.
“Kamu lagi!” beliau menyibak rambutnya yang pirang. Ini dosen blasteran, rambut bule muka Minang. Dengan tidak rela Mrs. Malina meralat tanda alpa di namaku. “Macet?” tanyanya memastikan, apakah jawabanku akan sama dengan jawaban saat terlambat di hari-hari sebelumnya.
Aku mengangguk, tadinya ingin kukatakan bahwa tentara Israel mengepungku, tapi tak usahlah.
“Ni, tadi kata Virly ada yang merhatiin kamu pas di Telanai,” bisik Tomi yang duduk di sampingku. Virly adalah cewek Hukum yang entah di mana tinggalnya tapi sering berbarengan denganku, baik jika naik bus kampus atau ketika kita sama-sama berpegal-pegal dengan motor menuju kampus.
“Siapa?” aku balas berbisik.
“Gak tau, tapi katanya preman, tampangnya sangar.” sejak kapan ada preman berwajah manis.
“Brewokan!”
“Hah?!” aku menelan ludah, cemas. “Agak gemuk?”
“Item juga.”
Ada keringat sebesar biji jagung di dahi dan hidungku, ciri-ciri yang disebutkan Tomi persis seperti orang yang aku hajar kemarin.
“Ani, where is your work?” biji jagung pun membesar.
Aku diusir lagi karena lupa mengerjakan tugas, ah masih sepuluh menit ini. Mending keliling cuci mata, paling-paling telat lima belas menit di kelas Typografi.
Aku berjalan tanpa beban, karena memang tidak bawa tas, sebuah buku sudah lebih dari cukup. Dengan insting yang lebih banyak ngaco daripada benarnya, aku merasa seperti ada yang mengikuti langkahku. Kutoleh ke belakang, hanya ada mahasiswi-mahasiswi menor yang doyan haha-hihi. Tapi aku benar-benar yakin bahwa ada orang yang sedang memperhatikanku. Aku berjalan memutar, seperti aktris India yang mengitari pohon saat suka dan duka.
Seseorang bertubuh agak bongsor berdiri di antara dua pohon, lima meter di belakangku, mungkin sedang menyamar. Lumayan miriplah, besarnya, tingginya, tapi kulitnya coklat tua, tua sekali dan wajahnya… brewokan! Waa….
Kupercepat langkah kembali ke kelas. Dosen Typografi pasti mencak-mencak ketika tahu aku terlambat lagi, sudah untung mau masuk. Memang susah jadi orang tenar, apalagi terkenal karena cewek satu-satunya di jurusan Desain Grafis. Layaknya perawan di sarang penyamun, paling cantik sendiri, jadi ketara kalau tidak hadir.
“Kok ngos-ngosan, An?” Virly yang berada di luar kelas ikut panik melihat wajahku memucat.
“Orang yang kamu liat, itu bukan?” aku menunjuk asal ke belakang.
“Mana?”
“Yang ndut, item, serem.”
“Orangnya emang begitu, tapi dia nggak di sini tuh,” Virly mengedarkan pandangan. “Lagian kenapa kamu bisa berurusan dengan dia?”
“Kemarin… hh… aku….”
Aku menceritakan pengalamanku kemarin dengan Aliyah. Pak Hardi, dosen Typografi mungkin sedang mencari kata-kata yang tepat untuk mendampratku.
“Tapi dia kan nggak ngeliat kamu, An,” Virly mulai menganalisa.
“Barangkali ada temennya yang liat pas kuhajar dia.”
“Kalo iya kenapa dia cuma ngeliat, kan bisa bantu ngeberesin kalian.”
“Jauh mungkin.” Aku makin pusing. Tugas Bahasa Inggris, absen
Typografi, si brewok…huh, bikin lapar! “Bisa minta tolong nggak?”
“Apa?”
“Pinjem ha-pe.”
Dengan cepat Virly mengeluarkan handphonenya. Kutekan nomor yang diberi Aliyah kemarin,, salinannya sudah kumasukkan ke handphoneku yang kemarin ketinggalan dan sekarang ketinggalan lagi.
“Assalamualaikum,” sepertinya suara Aliyah.
“Waalaikum salam, ini Ani, Al.”
“Kenapa An?”
“Kamu kenal preman yang kemarin?”
“Kenapa, dia gangguin kamu?”
“Kok tau?”
“Ng, ceritanya panjang.”
“Gak pa-pa cerita aja!”
“Kamu nggak takut pulsanya mahal? Beda operator ni.”
“Nggak apa-apa, ini gratis kok,” kukurangi volume suara.
“Gimana kalo pas kita ketemu aja, ini kan bukan nomor kamu.”
“Di mana?”
“Kalo sekarang aku lagi di Mendalo.”
“Mak! Jauh amat.”
“He he, ya udah, pulang kuliah aja kita janjian. Ok?”
“Yup.”
***
“Tuh preman ternyata ngikutin terus dari tadi pagi, padahal dia kan nggak sempat liat aku,” aku dan Aliyah bertemu di lesehan pasar.
“Aku tau kenapa.”
“Kenapa?” tanyaku sambil mencomot sepotong tempe goreng.
“Karena kamu tomboy.”
“Apa hubungannya?” tempeku tinggal seperempat, bawaan pusing.
“Dia dulu pacar aku”
“Ih amit-amit, eit sori!”
“Dulu aku juga tomboy, setelah hijrah dan pake jilbab, dia jadi stres berat karena aku putusin.”
“Berarti tadinya dia nggak sejelek itu? eh, maaf lagi.”
“Nggak, dia dulu bersih dan mahasiswa juga kayak kita.”
“Segitunya, emang kenapa diputusin?”
Aliyah menatapku heran.
Ada yang nyangkut ya?” kubersihkan sela-sela gigiku dengan lidah.
“Pacaran kan….”
“Oh iya, iya aku lupa, jilbaber kan gak boleh pacaran, pantang!” celotehku dengan suara lantang.
“Bukan jilbaber, tapi Muslim,” Aliyah menepuk pundakku, sudah berani dia.
“Aku Muslim lho.”
“Makanya, kamu juga gak boleh.”
“Siapa juga yang mau pacaran.”
“Kamu gak naksir aku kan?”
“Huaha ha ha,” tawaku pecah, gerobak gorengan sampai bergetar.
“Huss, malu dong cewek kok ngakak gitu.”
Aku menarik napas, menahan tawa yang sebagian telah lepas. “Trus kenapa mantan kamu ngintai aku?”
“Dia terobsesi sama aku, jadi waktu ngeliat ada cewek yang tomboy kayak Aliyah-nya dulu, dia ngerasa harus memiliki.”
Aku bergidik ngeri.
“Maaf ya, aku yang buat kamu berurusan dengan dia.”
“Gak pa-pa, udah telanjur terjadi. Tapi kamu harus ekstra hati-hati.”
“Kamu juga.”
“Setidaknya aku punya banyak bodyguard,” teman-teman satu jurusanku yang tadi ikut mengawal, nangkring dengan sabar di pagar-pagar kecil lesehan.
Aliyah nyengir, “Sebenarnya aku juga punya, tapi takut fitnah.”
“Fitnah?”
“Ya, pergaulan laki-laki dengan perempuan kan ada batasnya,” Aliyah berujar canggung. Padahal aku tak keberatan, justru aku rindu dengan siraman rohani seperti ini.
“Gak usah kaku, aku suka dinasihati karena aku butuh itu!”
Aliyah tampak terkejut, tapi sebentar kemudian matanya berbinar. “Tidak di sini tempatnya, kita ketemu Jumat sebelum Ashar di Masjid Nurdin. Bisa?”
Aku mengangguk semangat.
***
Aku dan Aliyah pulang menumpang mikrolet yang sama. Para bodyguard kuminta pulang lebih dulu dengan alasan menjaga hijab, apaan tuh? Aku juga tidak tahu, nanti saja tanya Aliyah saat bertemu di Masjid Nurdin hari Jumat. Sekarang ini aku sedang takut-takut cemas, siapa tahu si brewok yang ternyata bernama Steve juga berada di dalam mikrolet!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar