Sabtu, 29 Desember 2012

SALSA


“Mbak, Riana makan soto belum bayar, katanya…”

“Berapa?” Salsa langsung merogoh saku roknya

“Memangnya Riana siapa kamu, Sa?” tanya Aci keheranan.

Salsa dengan refleks mengeluarkan selembar sepuluh ribu sebelum Pak Mardi, penjual soto, selesai bicara

“Terima kasih,” Pak Mardi menyerahkan uang kembalian pada Salsa.

“Sa, ini sudah yang ketiga kali sejak kamu pindah ke sekolah ini.”

“Bukan tiga, tapi lima,” Salsa tak ambil pusing.


“Nah, trus kenapa kamu nggak berontak, itu namanya kamu sengaja buat dia ketagihan,” Aci mempercepat langkah untuk mengejar Salsa yang meninggalkannya.

“Aku gak pa pa kok, Ci. Aku malah suka bisa nolongin dia.”

“Suka? Bilang aja kamu takut, tapi plis kamu punya temen. Aku bisa kumpulin anak-anak basket buat ngerjain dia.”

“Jangan!” mata Salsa menatap Aci tajam.

“Itu kalo kamu mau. Tapi tanpa izin kamu, aku bakal ngelakuinnya kalo tuh orang masih ngerjain kamu.” Aci berpaling, dilihatnya Riana yang sedang bersandar di pintu XII IA 2, kelas yang berhadapan dengan kelas Aci dan Salsa, XI IPS 2.
***
Arloji di pergelangan tangan Aci telah menunjukkan pukul delapan lewat dua puluh delapan menit, sebentar lagi Pelajaran ke-2 dimulai, tapi Salsa belum juga muncul. Setiap siswa yang melintasi pintu kelas diperhatikan dengan saksama oleh Aci, berharap satu di antara mereka ada yang membawa surat ketidakhadiran dari Salsa.

Setelah lama menunggu, yang datang justru bukan surat, melainkan Salsa sendiri. Ia tidak masuk ke kelas, tapi menuju ruang kepala sekolah dengan kawalan seorang satpam. Seragam Salsa tampak kotor dengan noda lumut, ada dua sobekan kecil di kemejanya. Salsa memanjat tembok! Aci tahu itu karena ia sendiri pernah melakukannya, tapi tak mudah untuk percaya bahwa Salsa juga melakukan itu.

Hingga bel istirahat pertama berbunyi, Salsa belum memasuki kelas, Aci berniat menyusul untuk melihat keadaan sahabatnya. Di depan kelasnya, Riana bersulang dengan dua temannya. Suara dentingan botol soft drink dan tawa mereka meyakinkan Aci, bahwa ada yang tidak beres dengan kasus Salsa.

“Salsa…!” Aci berteriak memanggil Salsa yang baru saja melewati gerbang sekolah.

“Aku harus pulang, gak mungkin berlajar dengan pakaian seperti ini” Salsa berusaha menutupi bagian lengan dan pinggangnya yang sobek dengan tangan. “Kata kepala sekolah anggap aja ini hukuman, dan selebihnya aku cuma diminta tanda tangan surat perjanjian,” senyum Salsa terkembang.

“Motor kamu mana?”

“Naik taksi aja.”

“Iya, tapi motor kamu mana dan kenapa juga mesti manjat tembok, sudah tau pake rok panjang, mana bisa sampe dengan selamat.” Aci sewot.

“Nggak lagi, deh…”

“Kamu dikerjain, kan?” potong Aci, Salsa menunduk.

“Hai, diusir nih?!” Riana memutar kunci bermainan miniatur Ka’bah di telunjuknya, kunci sepeda motor Salsa.

“Sudah aku duga, mana ada jilbaber manjat tembok!” Tangan Aci mengepal, “Balikin kunci Salsa!”

“Siapa ya?” Riana dan dua temannya mendekati Aci

“Aku bilang balikin kunci Salsa, atau…” 

“Atau apa, hah?!” salah satu teman Riana mencengkeram kerah Aci.
BRUK!! Aci mendorongnya keras.

“Sudah, sudah… plis Kak, jangan ganggu dia,” Salsa melerai.

“Kalo sampai bel masuk kalian gak kasih tuh kunci, kalian bakal rasain akibatnya!”
“Kita gak akan ngasih sampe dia berhasil manjat tembok tanpa ketauan, biar aja seragamnya habis sekalian.” Riana melenggok pergi meninggalkan Aci dan Salsa.

“Aku tahu kamu baik, tapi ini bukan lagi sabar, tapi bodoh!” Aci menatap Salsa tajam.

“Dia kakak kelas kita, Ci.”

“Gak penting, biar guru sekalipun, ini keterlaluan.”

“Sudah! Aku gak butuh pembelaan kamu, Aku bisa jaga diri aku sendiri, ngerti?!” Salsa mendongak, menantang tatapan Aci yang beberapa senti lebih tinggi darinya.

Aci menggeram. Riana dan kedua temannya melambai di kejauhan.

***
“Konsentrasi!” pelatih tim basket putri berteriak-teriak dari pinggir lapangan.

“Ada masalah, Ci?” Farah menangkap kegelisahan di wajah Aci. Ia bertingkah seolah tak sedang bicara, matanya cermat melihat bola di tangan Aci, menghindari kecurigaan pelatih.

“Ada, nanti kita omongin,” Aci mengoper bola pada Lisa di posisi guard.

“Oke, sparing partner dengan SMA 3 lusa nanti harus kalian menangkan.” Pelatih mencukupkan latihan.
Aci mengumpulkan teman-temannya di bawah salah satu ring basket.

“Aku dikerjain Riana kemarin,” adu Aci pada teman-teman satu timnya.

“Kamu atau Salsa?” goda Rosi.

“Masalah manjat tembok kan, aku tau loh kronologisnya.”
Semua menoleh pada Lisa.

“Ceritain!” pinta Eka, sang kapten.

“Waktu itu aku liat dari angkot, Riana membonceng di motor Salsa. Sampe di lampu merah, Riana turun dan ngambil kunci motor Salsa. Aku gak tau mereka ngomong apa, yang jelas si Salsa akhirnya turun dan jalan kaki ke sekolah.”

“Kok bisa segampang itu?” Rosi mengernyit.

“Pasti ada sesuatu di antara mereka,” tebak teman Aci yang lain.

“Terserah ada apa, yang jelas ini bukan cuma iseng, tapi sudah bentuk kejahatan. Emang harga motor dapat seribu dua ribu.”

Seluruh anggota tim mengiyakan ucapan Aci.

“Tenang, kita kerjain dia lusa, Riana and the gank kan suka nampang di tempat-tempat rame, psst…” Eka mengatur rencana

***
Salsa memasuki kelas dengan tas menggembung. Aci tak menoleh saat Salsa meletakkan tas di atas meja.
“Masih marah, ya?” Salsa duduk di kursinya, di sebelah Aci.

“Bukannya kamu yang marah sama aku.” Aci tetap tak menoleh

“Nggak, waktu itu aku memang lagi emosi. Kita lupain aja, ya.”
Aci menoleh setelah mendengar tawaran Salsa. Senyumnya mengembang.

“Kamu masih suka jus black current, kan?” sebotol  air berwarna biru kehitaman dikeluarkan Salsa dari tasnya.

“Handuknya bawa juga?” Aci hapal betul persiapan Salsa di tiap-tiap pertandingan yang akan ia hadapi.

“Bawa dong.”

“Kamu nggak pulang dulu?”

“Nggak ah, makan waktu.”

“Motor kamu belum dipulangin?”

“Sudahlah, biar aja. Mudah-mudahan suatu saat Kak Riana bisa sadar.”

“Tapi…” ucapan Aci terhenti karena terganjal telunjuk Salsa yang ditempelkan di bibirnya.

“Aku titipin ini dulu ke kulkas kantin, ya” Salsa beranjak dengan membawa serta botol plastiknya.

***
“Ci, Salsa digampar Kak Riana!” Rosi melapor, napasnya tersengal karena baru saja berlari dari kantin.
Rosi dan Aci lalu bergegas menuju kantin.

Riuh, Aci tak mendapati Riana di sana, padahal kepalan tangan kanannya siap dilayangkan. Salsa tampak berusaha keras menahan tangis, di tangannya botol plastik berisi jus black current tinggal setengah,  sisanya menggenang di lantai yang retak.

“Kamu kenapa?” pertanyaan Aci hanya dijawab gelengan Salsa.

“Masuk, yuk!” Aci membawa Salsa ke kelas mereka, handuk yang tadi disiapkan untuk menyeka keringat Aci saat pertandingan, dipakai untuk menghapus airmata yang akhirnya mengalir juga di pipi Salsa.

“Aku cuma tanya, tadi kamu diapain?” Aci kembali bertanya.

“Kak Riana cuma minta jus ini, tapi aku tolak karena sudah ngasih kamu.”

“Trus dia tumpahin?” tebak Aci.

“Iya, tapi langsung aku rebut.”

“Kamu dipukul?”

“Nggak.”

“Kenapa pipinya merah?”

“Kamu kan tau sendiri, kalo nangis pipiku memang merah.”

“Tapi ada cap jarinya.”

“Aku nggak apa-apa kok, Ci.” Salsa kehabisan kata-kata.
Aci menarik napas perlahan.

Riana lewat bersama teman-temannya. Riang sekali.
Aci tersenyum sinis.

***
Tim lawan telah memasuki lapangan, Eka mengingatkan strateginya pada teman-teman satu tim, termasuk bersiasat untuk membalas perbuatan Riana. Pertandingan dimulai.
Quarter pertama, permainan tampak santai dengan kekuatan berimbang. Sorak sorai penonton terdengar menyemangati, hanya ada beberapa suara sumbang yang mengolok-olok di barisan paling depan penonton sebelah kiri, dekat wilayah lawan. Suara Riana dan kawan-kawan yang mencari perhatian para supporter tim undangan.

Aci mengode Rosi pada quarter ke-2, kebetulan lawan bermain sedikit lebih cepat, sesuai dengan harapan Eka dan anak buahnya.

Bola di tangan pemain lawan bernomor punggung 11 dapat direbut oleh Eka lalu diberikan pada Farah, yang kemudian melemparkannya pada Aci di posisi center.

Aci berlari dengan kecepatan penuh, Rosi mengiringi. Dan perhitungan dimulai!

Aci melemparkan bola sekeras mungkin ke arah Riana yang berada di pinggir lapangan, dengan mata tetap tertuju pada Rosi. Semua telah diatur, seolah-olah Rosi tak mampu mengimbangi kencangnya lari Aci sehingga passing bola dari temannya itu tak tertangkap oleh Rosi.

BUK!! Riana terhuyung mendapat serangan tiba-tiba di perutnya. Ia pingsan. Pertandingan dihentikan sesaat, tidak ada tersangka karena tidak terlihat adanya unsur kesengajaan.

Pada quarter berikutnya, permainan Tim Putri SMA 10 kacau karena Aci sibuk mencari Salsa, hingga ia tak konsentrasi pada bola basket. Sang pelatih kemudian menggantinya dengan pemain cadangan.

“Salsa nangis di UKS,” bisik Lisa saat mereka berpapasan. Lisa menggantikan Aci memasuki lapangan.
Di ruang UKS yang terlihat dari lapangan, beberapa siswa tampak berlarian panik. Aci berjalan pelan menuju UKS, ia berhenti sesaat di tempat Riana jatuh. Kunci sepeda motor Salsa tergeletak di sana, Aci memungutnya.

“Mobil… mobil!” guru Olahraga kelas XI yang tadi ikut menonton pertandingan, memerintahkan salah satu siswanya untuk menyediakan mobil.

“Ini kunci kamu,” Aci menyerahkan kunci di tangannya pada Salsa.

“Aku nggak butuh itu,” ujar Salsa di sela isaknya.

“Kamu nangisin dia?” Aci tersenyum kecut.

“Motor itu bukan cuma punya aku, tapi punya dia juga.” Suara Salsa terputus-putus karena sesegukan.

“Maksudnya?”

“Liat, Kamu hampir bunuh kakakku!” Salsa berlari mengikuti para siswa yang mengangkat tubuh Riana ke mobil.

“Sudahlah, Aci tidak sengaja,” tegur guru Olahraga yang tadi meminta mobil.

“Dia…” Salsa urung mengatakan kemungkinan kesengajaan, melihat Aci yang kebingungan.

“Dia kakakku.” suara Salsa melemah.

“Kakak kelas, kan?”

“Kakak tiri.”

***
Riana hanya sebentar di rumah sakit. Aci menjenguk ke rumahnya untuk meyakinkan Salsa, bahwa ia menyesal telah melakukannya. Dari tante Riana, diketahui bahwa Riana dan Salsa adalah kakak beradik satu ayah beda ibu. Riana tak bisa terima bahwa ibunya telah dikhianati oleh sang ayah, yang menikah lagi tanpa sepengetahuan istri pertamanya. Akibatnya, kebencian Riana pada ibu Salsa yang dianggap sebagai pemicu sakitnya sang ibu kandung hingga meninggal dunia, ia tumpahkan pada Salsa.

Selama ini Salsa bersabar, dengan harapan Riana puas hingga dapat melupakan sejarah kelam masa kecilnya tanpa ayah, dan bersedia menerima Salsa sebagai adik.

Aci tampak gugup pertama kali bertemu Riana, tak ada kata-kata yang mampu keluar dari mulutnya kecuali permintaan maaf. Tak disangka, ternyata Riana menerima maaf itu dan memberikan senyum tulus, bahkan disertai ucapan terima kasih.

“Terima kasih untuk apa, Kak?” tanya Aci. Tangannya dijabat erat oleh Riana.

“Inilah hikmahnya, kalo nggak kamu lempar dengan bola berkekuatan dahsyat itu entah kapan aku bisa sadar bahwa adikku ini benar-benar menyayangi kakaknya,” Riana membelai kepala Salsa yang tertutup jilbab.

Ada perasaan lega menyejuki dada Aci, setelah sebelumnya menyesali aksi yang ia lakukan bersama tim basketnya. Kini ia yakin, Salsa memang bersabar, bukan sedang bodoh.   
     

Tidak ada komentar:

Posting Komentar