Jumat, 22 April 2016

MARTIR


BOOM..!!
“Setaaan…”
“Anjiiingg..!”
Kami berlarian sambil terbahak. Mercon busi buatan Muaz memang yang terbaik, barangkali yang belum bangun sejak sahur, sekarang terjengkang di lantai. Hanya makian yang kami dapat, tak akan ada yang berani main tangan pada anak Rusli, Bapakku. Bukan karena itu saja, juga karena memang kampung kami hanya berisi orang-orang baik.

Sabtu, 31 Mei 2014

KEPINGAN LUKA




Kulihat Faruq masih tertunduk di depan gundukan tanah. Entah milik siapa kubur itu, aku terpaksa berbohong untuk menenangkan hatinya. Setelah lama berdiam, tiba-tiba Faruq berpaling padaku, tatapan matanya tajam.
You know I’m not like them[1],” kubalas tatapan itu lembut.
Faruq perlahan berdiri, lalu berbalik, meninggalkanku begitu saja.
Hey, don’t leave me[2]!” kukejar dia.
Khaliba lak[3].”
Why you say that[4]?”
Go!” Faruq mendorongku keras.
Aku tak coba menyusulnya lagi, tak pula sakit hati. Sangat wajar Faruq begitu, ia baru saja kehilangan adik perempuannya. Satu-satunya keluarga yang tersisa sejak kedatangaan pasukan dari negaraku.
Dua hari lalu milisi Mahdi menyerang Waziriyah, adik Faruq yang tinggal seorang diri terkepung di dalam rumahnya. Sebelumnya, aku sudah mengingatkan gadis itu untuk keluar bersamaku, tapi ia gadis yang patuh. Hafsah, adik Faruq itu dipesan saudaranya untuk tidak ke mana-mana, apalagi dengan laki-laki yang bukan mahram. Ditambah lagi, aku adalah orang asing, bangsa penjajah yang menghancurkan negeri mereka.

Minggu, 05 Januari 2014

Sertifikat



oleh Via Rinzeani (mahasiswa Unja)

Cahaya mentari kembali menyapa bumi sesuai rotasinya. Namun kali ini ada yang berbeda, mentari terlihat begitu murung tak seceria biasanya sebab semalam langit menangis sejadi-jadinya menyingkirkan gemerlap bulan dan pelita-pelita angkasa di tengah jadwal rutin mereka. Imbasnya, saat mentari telah cukup jauh meninggalkan ufuk, sisa-sisa embun masih belum hilang sepenuhnya dari dedaunan pohon sementara itu genangan air masih tertinggal di lekukan-lekukan jalan dan parit. Kesegaran udara masih sangat jelas terasa.

Dua orang gadis melintasi jalan trotoar. Di sebelahnya berderet bermacam-macam pohon. Di batang pohon itu, terpampang sebuah benda tipis persegi panjang tertancap paku, berbahan dasar seng yang dicat putih. Seng itu terletak lebih kurang 1-2 meter di atas permukaan tanah, tegantung tinggi pohonnya. Di atas seng itu tertulis nama pohon , habitat asli pohon serta nomenclature binomial-nya dengan cat berwarna hitam.

Minggu, 27 Oktober 2013

JUDI, TEETT...




 Keteplak… klotek-klotek,
“Nah!” Tok!
“Aduh!”
Suara-suara yang sama sekali tidak asing di XI IS 1. Indra sedang membagi-bagikan kartu pada Lukman, Heri, Adit, Farid, dan Ale. Di sudut lain, Markus sedang menggoncang-goncang gelas bekas air mineral yang berisi dadu, dan di bagian paling depan, Mila menjitak kepala Vika yang kalah dalam adu nilai menggunakan second function kalkulator. Hanya Diah dan Riska yang nganggur dan sesekali menghela napas, “Astaghfirullah…” membuat yang lain gerah.
Sejak dua bulan terakhir, entah terinspirasi dari mana, siswa kelas

Sabtu, 20 Juli 2013

CINTA SEGI BANYAK



 
“Itu orang apa bidadari, ganteng banget!”
“Bukannya bidadari tuh cewek?”
“Trus kalo yang masuk surga cewek, dapat cewek juga?!”
“Iya ya.... Eh, kamu udah pernah liat bidadari?”
“Pertanyaan kok nggak mutu gitu.”
“Lagian sok tau, kayak bidadari... pernah liat juga nggak.”
“Ya udah, kayak bulan aja.”
“Tapi permukaan bulan kan bolong-bolong, sementara wajah si Tito tuh asli mulus banget!”
“So, mirip siapa dong?”
“Leonardo Dicaprio.”
“Lebih gelap.”
“Hritik Roshan.”
“Kurang tinggi.”
“Mat Solar.”
“Enak aja!” Lia menjitak pelan kepala Caca.